Bandarlampung (ANTARA News) - Sejumlah budayawan Lampung mendesak pemerintah daerah memperjuangkan pengembalian kamus kuno bahasa Lampung karya Herman Neubronner Van Ver Tuuk yang saat ini disimpan di Universitas Leiden, Belanda.

"Kamus kuno bahasa Lampung merupakan salah satu karya penting Van Der Tuuk dan merupakan aset budaya yang nilainya sangat tidak ternilai, namun ketiadaaan duplikatnya di Indonesia menyebabkan kita kehilangan jejak sejarah," kata budayawan Oyos Saroso HN di Bandarlampung, Senin.

Oyos menjelaskan, upaya melacak kamus kuno bahasa Lampung karya Van Der Tuuk itu harus langsung dilakukan melalui komunikasi antara pemerintah Indonesia-Belanda melalui kerjasama bilateral, bukan oleh perorangan, karena menyangkut hak cipta dan kekayaan intelektual yang pengesahan dan legalitas hukumnya dipegang langsung oleh Belanda.

Sementara itu, peneliti yang intens melakukan penelitian tentang Van Der Tuuk dan karyanya, Arman AZ,menceritakan kamus kuno bahasa Lampung tersebut setebal hampir 600 halaman dan dibuat saat Van der Tuuk berada di Lampung selama 1868-1869.

Selain itu, Van Der Tuuk juga adalah orang pertama yang membuat kamus Batak, dan kamus bahasa Bali yang tebalnya sekitar 3.600 halaman.

Arman mengemukakan manuskrip kamus  bahasa Lampung tidak sempat dicetak.

Dia melakukan riset mengenai Van Der Tuuk sejak 2011 dan menurutnya, sebagai peneliti sekaligus linguis, pria Belanda itu banyak berjasa dalam mencatat sejarah bahasa Lampung.

"Ternyata dari kamus tersebut diketahui banyak ungkapan Lampung kuno yang sudah punah dan banyak tidak digunakan lagi saat ini," kata dia.