Bandarlampung (ANTARA News) - Pemerinah Belanda melalui Kepala Erasmus Taalcentrum Kedutaan Besar Belanda di Jakarta Kees Groeneboer mempersilakan kamus bahasa Lampung karya ahli bahasa dari Belanda HN van der Tuuk diperbanyak untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Menurut Groeneboer, di Bandarlampung, Kamis (27/2), Universitas Leiden Belanda tidak akan mengenakan biaya royalti apa pun atas pemberian dan penyebaran salinan kamus tersebut di seluruh wilayah Lampung.

"Manuskrip tersedia secara digital dan bisa disebar kemana pun, Universitas Leiden akan sangat senang," kata dia lagi.

Pria yang fasih berbahasa Indonesia itu menyebutkan, manuskrip itu disediakan secara digital agar bisa dipakai tanpa terikat batas wilayah dan bebas hak cipta, selama untuk kepentingan pengetahuan.

Meski demikian, dia menambahkan, untuk menyebarkan manuskrip saat ini masih harus melalui berbagai tahapan, mengingat kamus yang diserahterimakan tersebut masih menggunakan tulisan tangan, sehingga kurang jelas dibaca bahkan oleh orang Belanda sekali pun.

"Harus dibentuk tim untuk menerjemahkan kamus tersebut agar bisa dibaca dan dikonsumsi oleh masyarakat Lampung," katanya pula.

Selain menerjemahkan, tim juga harus melatinkan huruf yang ditulis dalam kamus tersebut, karena kamus tersebut ditulis dengan mengunakan bahasa Jawa kuno.

Hal yang sama juga diungkapkan budayawan Djajat Sudrajat yang menyatakan bahwa pengembalian kamus tersebut harus dipelajari dan disikapi dengan benar.

"Kamus tersebut merupakan harta berharga untuk ilmu pengetahuan, jadi harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya," kata dia.

Kamus Bahasa Lampung yang ditulis oleh ahli bahasa dari Belanda HN van der Tuuk, dan tersimpan di Belanda sejak abad ke-18 telah diserahterimakan kepada masyarakat Lampung, Kamis.

Serah terima tersebut dilakukan oleh Kepala Erasmus Taalcentrum Kedutaan Besar Belanda Kees Groeneboer kepada perwakilan masyarakat Lampung di Hotel Emersia Bandarlampung bersamaan acara dialog publik.

Penyerahan kamus bahasa Lampung karya HN Van Der Tuuk dirangkai dengan diskusi publik bertema "Mengembalikan Harga Diri Lampung (Kasus Kamus Bahasa Lampung Pertama Karya HN van der Tuuk", dan diikuti oleh 75 undangan dari elemen pemerintah, aktivis budaya, komunitas pecinta sejarah, akademisi, budayawan dan wartawan.

HN Van Der Tuuk adalah ahli bahasa lapangan yang meneliti daerah Lampung pada tahun 1868--1869.

Kamus bahasa Lampung tersebut merupakan yang pertama disusun, dan telah sekitar 1,5 abad tersimpan di Belanda dan kini telah kembali ke Lampung.

Kamus bahasa Lampung yang pertama disusun tersebut dibuat saat van der Tuuk menetap di Lampung (1868--1869), tepatnya di tepi Sungai (Way) Seputih. (AH*B014)