01 02 03

~ Kata Mutiara ~

Kemerdekaan tanpa belajar itu selalu beresiko, sementara belajar tanpa kemerdekaan itu selalu sia-sia. John F. Kennedy

Agenda

Komentar Pengunjung

  • isna: Mau tanya Jam bimbel utk SD kls 4 mulai jam berapa ya ?terus masih bisa daftar gak utk senester genap?trims seblmny
  • ?: Hasil to yang kesekolah sekolah gak diumumin kan? Sudah kuduga
  • Hwerahji: Kira-kira berapa bayar lesnya 1bulan ya ???????? ^ ^??????????????????tolong di jawab ya ??? Plisssss
  • rizky atmoko dwinata: kak hasil TO di smpn 1 metro kemarin tanggal 15 maret 2015 belum di umumkan y??? mohon infonya
  • rama: mau tanya kamus bahasa lampung kuno seperti artikel yg tertulis di sini saat ini ada dimana ya? apakah boleh untuk mengcopy utk pribadi, tks
  • Nanik: pelajar yg menang lomba IMC les dmna ya?
  • wafiq aditiya: pengumuman yang les b inggris di raden intan masuk tgl 15 juli
  • wafiq aditiya: tgl 21 masih les polamatika gak sih?
  • Masayu aprillisa: Oh iya kira-kira lpk airlangga dimana ya?
  • wihda nur fadhila: info UN SD kok belum ada?
  • fannisa humaira s: mau tanya, jumat besok bawa kado y?;)
  • maya: mb gimana cara lihat hasil osn
  • nova: mau tanya , kalo mau liat hasil try out tanggal 18 mei 2014 gimana caranya ya ?????
  • Sekar Pratiwi: mbak, mau tanya.. hasil tryout B.indonesia SMPN4 METRO kapan di umuminnya ya??
  • desy sucianti: Mba saya mau tanya. Mau lihat peringkat tri out sd 3 metro td dimana?
  • Sauki: Hallo ba fitri;(
  • Novia Helni Astari: TO nya :D
  • nidiya maranta: ini ngurutinnya sesuai absen ya???:)
  • dimas pranjana bagas: hasil TO b.indo smp 4 metro?
  • wafiq aditya wiyono: mbak izin

Nama
Isi Pesan Anda:
:) :D ;) :( :O :P :S :roll: ;( :@

Security : iXMKp

Gabung di Facebook Kami


Jajak Pendapat

Apakah informasi di website kami sudah lengkap?
Lengkap91 (52.0%)
Cukup Lengkap42 (24.0%)
Kurang Lengkap42 (24.0%)
TOTAL175

Arsip Polling Sebelumnya

Link Terkait

Kelulusan Tak Bisa Didominasi Ujian Sekolah

Diposting oleh , Tgl 06-01-2015 & wkt 07:17:23 & dibaca Sebanyak 481 Kali        
 

KOMPAS.comKompetensi riil peserta didik tak bisa hanya dilihat dari hasil ujian sekolah yang akan menjadi penentu kelulusan. Perlu beragam penilaian kelas agar informasi mengenai capaian peserta didik lebih lengkap. Ujian sekolah sebaiknya hanya jadi salah satu kriteria penentuan kelulusan dan proporsinya lebih kecil dibandingkan dengan penilaian kelas sejak semester pertama.

Hal ini dikemukakan oleh pakar evaluasi pembelajaran dari Universitas Muhammadiyah, Prof Dr Hamka (Uhamka) Elin Driana, Selasa (6/1), di Jakarta. ”Kapasitas guru untuk mengembangkan dan menerapkan beragam model penilaian kelas perlu ditingkatkan lewat pelatihan. Paradigma penilaian semestinya ditekankan pada assessment as learning dibandingkan assessment of learning yang dominan saat ini. Assessment as learning lebih berperan mengarahkan siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat,” kata Elin.

Hal senada dikatakan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Djaali saat ditemui di ruang kerjanya. Untuk menentukan kelulusan peserta didik harus dilihat dari semua komponen atau aspek. Tidak bisa hanya dari satu aspek apakah itu ujian sekolah atau ujian nasional (UN). Ini berarti penilaian guru harus menjadi komponen penentu kelulusan peserta didik.

”Harus diingat, yang lebih dibutuhkan adalah kompetensi peserta didik. Bukan masalah lulus atau tidaknya. Kompetensi penting untuk menyiapkan anak dalam menghadapi kehidupan nyata,” kata Djaali.

Sesuai undang-undang

Ujian sekolah yang menjadi penentu kelulusan, kata guru SMA Negeri 17 Jakarta, Suparman, telah sesuai dengan amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 58 Ayat (1) yang menyebutkan evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik atau guru. Pasal 61 ayat (2) menyebutkan, ijazah diberikan kepada peserta didik setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

”Ujian sekolah justru mampu menilai kompetensi anak sesuai karakter dan keunikan profesinya, karena penilaian secara komprehensif mencakup penilaian ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif,” kata Suparman.

Adapun UN hanya mengedepankan aspek kognitif. Suparman menilai, guru sebenarnya sudah terbiasa dengan penilaian lokal sekolah sehingga tidak perlu ada proyek untuk memasuki perubahan yang akan ada. Sekolah cukup membuat komitmen bersama untuk melaksanakan sistem penilaian sekolah yang obyektif dan berprinsip pada potensi anak dan komprehensif.

”Perubahan ini tidak memerlukan proyek diklat yang berlebihan. Asosiasi-asosiasi profesi guru seperti musyawarah guru mata pelajaran perlu diberdayakan kembali,” kata Suparman.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak khawatir guru dan sekolah akan mengatrol nilai peserta didik. Opini seperti itu justru mengabaikan sistem penilaian yang komprehensif dan menunjukkan kecurigaan yang berlebihan kepada guru. Perbaikan nilai terhadap anak setelah melalui proses mengulang adalah hal biasa dalam kerja profesional guru.

”Jadi apakah siswa yang lulus atau tamat sekolahnya setelah melaksanakan remedial atau mengulang dan mencapai kompetensi disalahkan? Tentu tidak,” kata Suparman


Sosial Media :

xrmO2

Kembali

Hubungi Kami

Kategori Berita

Berita Terbaru

Statistik Pengunjung

Online : 1 User
Tot Hits : 630909 Hits
Hari Ini : 347
Kemarin : 158
Bulan Ini : 5358
Tahun Ini : 5358
Total : 532609